Agu
21
Filed Under (MAKAN) by adakokodi on 21-08-2011 and tagged ,

“Sudah lama rasanya untuk tidak mencicipi kuliner khas di kota Palembang.” Itulah kata yang terlontar sesaat sebelum take off dari bandara Soekarno Hatta (Jakarta). Awal Mei 2010 lalu akhirnya setelah lama meninggalkan tanah Sriwijaya.

Sejak mendaratkan kaki di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang yang termasuk dalam salah satu bandara berkategori internasional ini ada rasa kerinduan untuk segera mendatangi tempat-tempat yang sedari jaman kuliah menjadi tempat pilihan bersama rekan-rekan menghabiskan akhir pekan ataupun sekadar mentraktir ketika mendapat rezeki lebih.

nasi-goreng-bang-ali-palembang-prakoso-bhairawa-puteraBerbicara Palembang, apalagi soal kuliner pasti akan tertuju pada empek-empek. Makanan yang satu ini benar-benar wajib untuk dinikmati dan dijadikan buah tangan jika menyinggahi kota yang dibelah dengan Sungai Musi. Sungai Musi pun menjadi habitat terbaik bagi kawanan ikan Belida (hotopetrus chitala, H.B) atau oleh masyarakat setempat dikenal dengan iwak belido. Ikan Belida merupakan bahan baku pembuatan empek-empek kualitas tinggi. Sayangnya populasinya tinggal sepuluh persen saja yang hidup secara bebas di perairan Sungai Musi.

Nah,..kita tinggalkan sejenak mengenai empek-empek dan ikan Belida. Berhubung jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 21.35 WIB mau tidak mau taksi yang saya pesan langsung meluncur ke Ilir Barat Permai. Sebuah hotel berbintang yang cukup nyaman dengan harga relatif terjangkau menjadi pilihan saya. Setelah membersihkan diri, ternyata rasanya perut ini harus tetap diisi juga sebelum istirahat malam. Ehm,..waktu mulai larut tapi insting dan sisa memori sewaktu beraktivitas di kota Palembang coba menjadi petunjuk mencari tempat makan.

Setelah berjalan menyusuri jalan Mayor Ruslan mendekati pusat perbelanjaan Internasional Plaza, akhirnya bertemu juga dengan Nasi Goreng Bang Ali. Nasi goreng Bang Ali terkenal dengan ayam kampungnya yang disajikan sebagai pelengkap nasi goreng. Bukan hanya itu, tempat makan ini buka mulai pukul enam sore hingga pukul tiga malam. Namun, sayangnya kali ini saya kurang beruntung karena ayam kampung yang terkenal gurih dan lezat itu sudah habis. Saya pun hanya kebagian hati ayam saja. Tak apalah untuk hidangan malam sebelum tidur. Tak hanya nasi goreng ati ayam kampung yang saya pesan, segelas es Jeruk Kunci menjadi pilihan. Soal harga jangan ditanya, dijamin cukup murah karena makanan yang saya pesan kali ini hanya enam belas ribuan saja.